LEBAK — Kalau bukan anak muda yang peduli, siapa lagi yang akan menjaga budaya Banten? Jangan sampai pencak silat, debus dan tradisi leluhur hanya tinggal nama di buku sejarah!Pesan keras itu mengemuka dalam Ritual Budaya Keceran Tjimande yang digelar Badan Pelestari Seni Budaya Banten Indonesia (GBI), Kamis malam (10/9/2026).
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menjaga Budaya”, kegiatan yang berlangsung di kediaman Ketua Umum GBI Budi Hartono alias Boton, Kampung Lebak Sambel, Kelurahan Cijoro Lebak, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, ini menjadi ajang berkumpulnya para pendekar, padepokan dan paguron dari berbagai wilayah.
Bukan cuma kumpul-kumpul!
GBI ingin menunjukkan bahwa budaya Banten masih hidup dan tidak boleh kalah oleh derasnya budaya modern yang semakin hari semakin akrab dengan generasi muda.
“Jangan sampai budaya kita punah!” Begitu kira-kira pesan yang ingin ditegaskan melalui kegiatan tersebut.
Ketua Umum GBI Budi Hartono mengatakan, acara keceran menjadi momentum untuk menyatukan para pelaku seni sekaligus menjaga tradisi warisan leluhur.
“Untuk acara keceran kita berbaur bersama. Kita mengundang para padepokan dan paguron yang ada di setiap kecamatan,” ujar Budi Hartono.
Menurut pria yang akrab disapa Boton itu, pelestarian seni budaya tidak boleh hanya menjadi acara seremonial sesaat. Generasi muda harus dilibatkan. Mereka perlu dikenalkan dengan seni tradisional agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.
“Tujuan dari kegiatan seni budaya ini agar budaya kita tidak sampai punah. Ini juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan anak muda sekarang agar mencintai seni budaya,” tegasnya.
Jangan Tunggu Punah Baru Ribut!
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa budaya tidak bisa hanya dibanggakan ketika tampil di panggung atau saat ada acara besar.
Kalau tidak dirawat dari sekarang, bukan mustahil generasi berikutnya hanya mengenal pencak silat dan debus dari cerita orang tua. Karena itu, Boton berharap kegiatan pelestarian seni budaya dapat dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya di tingkat kabupaten, tetapi juga berkembang hingga tingkat provinsi.
Pencak silat, katanya, juga dapat menjadi wadah positif bagi anak-anak muda untuk mengasah bakat, disiplin, keberanian dan mengejar prestasi.
“Mudah-mudahan budaya ini jangan sampai punah. Melalui kegiatan seperti ini generasi muda bisa mengembangkan bakatnya dan seni budaya kita tetap lestari,” pungkasnya.
Pendekar Muda Turun Gelanggang
Suasana semakin panas dan semarak ketika anak-anak hingga orang dewasa tampil memperagakan seni pencak silat.
Sejumlah paguron dari berbagai wilayah ikut meramaikan kegiatan, antara lain dari Bayah, Malingping, Panggarangan, Cikulur, Cibuah, Warunggunung, Kalanganyar, Cimarga, Rangkasbitung, Citeras, Maja, Sajira, Sobang hingga Cipanas.
Bukan hanya pencak silat.
Atraksi debus ikut membuat suasana semakin menggigit. Pertunjukan diawali pihak DPP GBI dan dilanjutkan oleh padepokan serta paguron yang hadir.
Yang menarik, kegiatan budaya itu tidak melulu soal atraksi dan tradisi.
GBI juga menyelipkan kegiatan sosial dengan memberikan santunan secara simbolis kepada anak yatim.
Pesannya sederhana tetapi keras: melestarikan budaya harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap sesama.
Di tengah gempuran zaman, GBI mencoba membuktikan satu hal budaya Banten belum habis.
“Selama masih ada yang mau merawat, mengajarkan dan mengenalkannya kepada anak muda, pencak silat, debus dan tradisi leluhur Banten tidak akan gampang ditelan zaman.” tutupnya
(Red)





