MAJALENGKA – Tradisi Kirab dan Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung kembali digelar dengan semarak di Kabupaten Majalengka. Tahun 2026 menjadi momen istimewa karena bertepatan dengan peresmian Museum Talaga Manggung, yang digadang-gadang menjadi benteng pelestarian sejarah dan budaya Kerajaan Talaga Manggung.
Museum tersebut diresmikan oleh TB Hasanuddin, salah seorang keturunan Kerajaan Talaga Manggung sekaligus penggagas renovasi gedung museum. Setelah melalui proses pembenahan, museum kini hadir sebagai pusat edukasi sejarah sekaligus tempat menyimpan berbagai warisan budaya agar tetap lestari.
Peresmian museum dihadiri Bupati Majalengka Eman Suherman, perwakilan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jajaran pemerintah daerah, budayawan, tokoh masyarakat, masyarakat adat, hingga tamu undangan.
Dalam sambutannya, Bupati Eman menegaskan bahwa tradisi Nyiramkeun Pusaka bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya menjaga identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
“Tradisi nyiramkeun ini merupakan bentuk penghormatan kita terhadap leluhur. Di samping itu, kita juga memelihara budaya yang sudah sekian tahun terpelihara dan terjaga,” ujar Eman kepada Media LensaNewsBanten.Selasa (4/8/2026).
Ia mengungkapkan, Tradisi Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung kini telah berstatus Warisan Budaya Takbenda (WBTb), mulai dari tingkat Jawa Barat hingga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Menurut Eman, pengakuan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama agar tradisi itu tidak tergerus perkembangan zaman.
Tak hanya sarat nilai sejarah, Nyiramkeun Pusaka juga dinilai mampu menjadi perekat persatuan masyarakat.
“Ketika kita melaksanakan tradisi ini, bukan hanya semata-mata kita hormat kepada leluhur kita, namun juga ini adalah alat pemersatu,” tegasnya.
Eman berharap tradisi tersebut terus dilestarikan dan semakin banyak melibatkan generasi muda agar sejarah, adat, dan budaya Talaga Manggung tetap hidup dari generasi ke generasi.
Sementara itu, keberadaan Museum Talaga Manggung diharapkan menjadi pusat informasi sejarah Kerajaan Talaga Manggung sekaligus destinasi edukasi budaya bagi masyarakat. Museum ini juga akan berfungsi menjaga berbagai benda pusaka dan dokumentasi sejarah agar tetap terawat dan dapat dipelajari di masa mendatang.
Menutup sambutannya, Eman mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga warisan budaya tersebut.
“Mudah-mudahan kita semua selalu dipanjangkan umur, disehatkan badan, dan bisa ketemu kembali di tahun yang akan datang untuk mengikuti kegiatan yang sama, dan tentu agar kita semua diberikan keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.
Reporter (Sep).





