Posted in

Dalem Santri, Perintis Purwakarta yang Nyaris Terlupakan! Jejak Sejarahnya Jangan Sampai Hilang

PURWAKARTA – Sejarah Purwakarta, Jawa Barat, bukan sekadar cerita tentang lahirnya sebuah kabupaten. Ada tokoh-tokoh perintis yang meletakkan fondasi perjalanan daerah ini, tetapi namanya belum banyak dikenal masyarakat. Salah satunya Dalem Santri atau Raden Adipati Aria Soerianata, Bupati Karawang pada 1820–1827 di era kolonial Belanda.

Perannya bukan perkara kecil. Pada 1821, Dalem Santri memindahkan ibu kota Kabupaten Karawang dari Bunut Kertajaya, yang kini masuk wilayah Kabupaten Karawang, ke Wanayasa, yang sekarang berada di Kabupaten Purwakarta.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian sejarah yang mengantarkan lahirnya Purwakarta. Namun, seberapa jauh masyarakat mengenal sosok yang ikut membuka jalan bagi terbentuknya daerah tersebut?

Nama Dalem Santri memang belum sepopuler adiknya, Dalem Sholawat atau Raden Adipati Aria Soeriawinata. Padahal, keduanya memiliki peran dalam perjalanan sejarah Purwakarta.

Dalem Sholawat tercatat sebagai Bupati Karawang pada 1828–1849. Ia dikenal dalam sejarah pembentukan Purwakarta setelah ibu kota kabupaten dipindahkan dari Wanayasa ke Sindang Kasih pada 1830. 

Setahun kemudian, berdasarkan Besluit pemerintah kolonial Belanda tertanggal 20 Juli 1831 Nomor 2, nama Purwakarta dikukuhkan.

Tanpa langkah Dalem Santri pada 1821, perjalanan sejarah menuju Purwakarta seperti yang dikenal sekarang tentu memiliki cerita berbeda. Pemindahan pusat pemerintahan ke Wanayasa menjadi salah satu mata rantai penting yang tidak semestinya luput dari perhatian.

Dijuluki Dalem Santri karena Kealiman

Julukan Dalem Santri bukan tanpa alasan. Ia dikenal masyarakat sebagai sosok yang alim dan tekun menjalankan ibadah. Hal serupa melekat pada adiknya, Dalem Sholawat, yang disebut rajin berselawat dalam berbagai keadaan.

Keduanya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat dengan pendidikan agama. Kakek mereka, Raden Muhammad Thohir, dikenal sebagai tokoh ulama yang memiliki pengaruh di Bogor.

Pada masa itu, seorang bupati tidak hanya dituntut menjalankan pemerintahan, tetapi juga menjadi panutan masyarakat. Perpaduan peran sebagai pemimpin pemerintahan dan tokoh agama menjadi bagian dari gambaran kepemimpinan pada zamannya.

Dalam catatan silsilah keluarga, Dalem Santri dan Dalem Sholawat disebut memiliki hubungan keturunan dengan trah Pajajaran melalui garis sang kakek. Sementara dari pihak nenek mereka, Ratu Syarifah, terdapat hubungan dengan trah Kesultanan Banten.

Latar belakang tersebut menjadi bagian dari sejarah keluarga yang kini kembali ditelusuri untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap tokoh-tokoh perintis Purwakarta.

Mata Air Cibulakan, Jejak yang Masih Bertahan

Selama memimpin di Wanayasa, Dalem Santri disebut meninggalkan sejumlah jejak bagi masyarakat. Salah satu peninggalan yang dikaitkan dengan masa kepemimpinannya adalah Mata Air Cibulakan di Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa.

Mata air tersebut hingga kini masih dimanfaatkan sebagai sarana pengairan. Letaknya juga relatif dekat dengan makam Dalem Santri.

Keberadaan mata air dan makam tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu tersimpan dalam dokumen tertulis. Sebagian jejaknya dapat ditemukan melalui situs, tradisi, dan peninggalan yang masih berhubungan dengan kehidupan masyarakat.

Karena itu, penelusuran sejarah Dalem Santri tidak cukup berhenti pada cerita turun-temurun. Dokumentasi, penelitian, dan perawatan situs menjadi penting agar generasi berikutnya dapat mengenali warisan sejarah tersebut dengan lebih utuh.

Keturunan Pulang dari Amerika, Napak Tilas Digelar

Upaya mengangkat kembali nama Dalem Santri mendapat momentum melalui kegiatan napak tilas kesejarahan yang melibatkan BELA PURWAKARTA, wadah silaturahmi lintas elemen masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menyambut kedatangan Raden Boyke Pranata Soerianata, generasi ketujuh Dalem Santri, yang baru kembali dari Amerika Serikat setelah berkarier hampir 30 tahun.

Boyke diketahui berkiprah di Harley-Davidson Company di Sacramento, California. Dalam kepulangannya kali ini, ia tidak hanya berziarah ke makam leluhurnya, tetapi juga merencanakan penyelenggaraan haul Dalem Santri di Wanayasa.

Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara, menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, napak tilas sejarah dapat menjadi jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan tokoh-tokoh yang berperan dalam perjalanan daerah.

Kegiatan silaturahmi dan ziarah itu turut dihadiri sejumlah unsur pemerintahan dan masyarakat, di antaranya Kabag Protokol Pemda Purwakarta Hilman Nugraha, Camat Wanayasa Heru Agus Riyanto, Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Wanayasa Gunawan Adriana, Kepala Desa Wanayasa Makmur Hidayat, Wakil Ketua BPD Desa Wanayasa Rina Sri Nurbaeti, serta Kepala Desa Babakan Endin Sopyudin yang akrab disapa Ebet.

Dari BELA PURWAKARTA, hadir pula Ali Novel Magad, Humas Komite Sepeda Indonesia Kabupaten Purwakarta; Sahril Sidik atau Boriel, Humas BELPUR; Richo, koordinator Paguyuban Warga Banten Purwakarta; serta Uu Wijaya dari Komunitas Iket Sunda (KIS ARTA) Kabupaten Purwakarta.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa upaya merawat sejarah membutuhkan kerja bersama, bukan hanya mengandalkan keluarga keturunan tokoh atau komunitas tertentu.

Generasi Muda Diajak Mengenal Sejarah

Napak tilas tersebut juga diikuti Vera Novia, Duta Pariwisata Jawa Barat sekaligus Duta Batik Persahabatan Jawa Barat 2026, yang merupakan Mojang Kabupaten Purwakarta tahun 2024.

Kehadiran Vera diharapkan dapat mendorong generasi muda agar tidak hanya mengenal Purwakarta dari sisi wisata dan budayanya, tetapi juga memahami sejarah yang membentuk daerah tersebut.

Aa Komara menilai keterlibatan generasi muda penting untuk memperluas pengenalan sejarah Purwakarta kepada masyarakat.

“Kehadiran Vera Novia merupakan bentuk apresiasi yang mewakili Gen Z terhadap leluhur Purwakarta. Aktivitas ziarah ini sekaligus menjadi edukasi agar generasi penerus memahami sejarah Purwakarta secara utuh, terlebih bagi seorang Mojang atau Duta yang harus mampu menginformasikan kepada khalayak luas tentang Purwakarta secara detail, terutama dari aspek historis,” tutur Aa Komara.

Sementara itu, Vera Novia menilai kunjungan ke makam Dalem Santri bukan sekadar kegiatan ziarah. Situs tersebut juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata religi dan sejarah di Kecamatan Wanayasa.

“Selain bentuk penghormatan terhadap leluhur, kunjungan ini sangat penting untuk menggali potensi pengembangan wisata religi,” ujar Vera.

Ia berharap, apabila kawasan makam tersebut dikembangkan secara terencana, manfaatnya dapat dirasakan masyarakat sekitar, terutama melalui meningkatnya kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi lokal.

“Tentunya ketika di masa depan situs keramat Dalem Santri ini menjadi destinasi wisata religi, maka akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal Desa Babakan dan Kecamatan Wanayasa serta Kabupaten Purwakarta pada umumnya, dengan banyaknya peziarah dari lintas kota atau provinsi ke lokasi ini,” imbuhnya.

Makam Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Religi

Kepala Desa Babakan, Endin Sopyudin atau Ebet, mengungkapkan bahwa makam Dalem Santri selama ini telah didatangi peziarah dari berbagai daerah.

“Untuk saat ini saja makam Dalem Santri sudah sering diziarahi oleh masyarakat lintas kota, di antaranya dari Karawang, Bogor, Bandung, bahkan dari Lamongan, Jawa Timur,” ungkap Ebet.

Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi modal awal untuk memperkenalkan situs Dalem Santri secara lebih luas. Salah satu gagasan yang muncul adalah menyusun paket perjalanan wisata religi yang menghubungkan sejumlah situs bersejarah di Purwakarta.

Rute yang diusulkan meliputi makam Dalem Santri di Wanayasa, makam Syekh Baing Yusuf di Purwakarta, serta makam Mama Sempur di Kecamatan Plered.

Jika dikelola dengan baik, gagasan tersebut berpeluang memperpanjang kunjungan wisatawan sekaligus membuka ruang usaha bagi warga. Namun, pengembangan kawasan tetap perlu memperhatikan pelestarian situs, kenyamanan peziarah, aksesibilitas, serta kelengkapan informasi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, mengangkat kembali nama Dalem Santri bukan hanya soal mengenang seorang bupati dari masa kolonial. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi upaya memastikan bahwa salah satu mata rantai penting dalam sejarah Purwakarta tidak tenggelam oleh waktu.

Sejarah tidak cukup hanya dikenang saat peringatan hari jadi. Jejaknya perlu dirawat, kisahnya perlu diteliti, dan peninggalannya perlu dijaga. Pemerintah, keluarga keturunan, komunitas, serta masyarakat memiliki tanggung jawab bersama agar warisan Dalem Santri tetap dikenal oleh generasi mendatang.

(sep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version