LEBAK – Potret buram dunia pendidikan kembali mencuat di Kabupaten Lebak, Banten. SMKN 1 Cihara yang berdiri sejak 2012 hingga kini belum memiliki gedung sendiri. Selama kurang lebih 14 tahun, kegiatan belajar mengajar (KBM) masih menumpang di SMPN 3 Cihara.
Belum tuntas persoalan gedung, siswa dan guru juga harus berjibaku melewati jalan rusak parah sepanjang kurang lebih empat kilometer menuju sekolah di Desa Ciparahu.
Jalan berlubang, berlumpur, dan dipenuhi genangan air saat hujan menjadi pemandangan yang dikeluhkan para pelajar.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: sampai kapan siswa harus belajar dengan fasilitas yang belum pasti, sementara akses menuju sekolah justru mengancam keselamatan mereka?
Kepala SMKN 1 Cihara, Agus S., membenarkan bahwa sekolah yang dipimpinnya masih menumpang di SMPN 3 Cihara sejak pertama kali berdiri.
Menurut Agus, pihak sekolah telah mengusulkan agar memiliki gedung sendiri kepada instansi terkait. Namun, hingga kini kepastian realisasinya belum juga diperoleh.
“Sudah kami usulkan kepada pihak terkait agar siswa tidak lagi menumpang. Namun, sampai sekarang belum ada jawaban yang pasti. Hanya ada kabar bahwa pada 2027 akan dilakukan merger,” ungkap Agus saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.
Kabar Merger 2027, Nasib Sekolah Menggantung?
Informasi mengenai kemungkinan merger pada 2027 menambah tanda tanya atas masa depan SMKN 1 Cihara. Hingga kini, belum ada kepastian resmi mengenai kebijakan tersebut maupun langkah konkret untuk memenuhi kebutuhan gedung sekolah.
Agus juga mengaku kebingungan menghadapi kemungkinan rehabilitasi gedung SMPN 3 Cihara yang selama ini digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Jika rehabilitasi benar-benar dilaksanakan, muncul persoalan lain yang tak kalah mendesak: di mana para siswa akan belajar selama pekerjaan berlangsung?
Jangan sampai persoalan gedung yang tak kunjung tuntas justru berujung pada terganggunya hak siswa untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Instansi terkait dituntut memberikan penjelasan terbuka mengenai status usulan pembangunan gedung, kepastian kabar merger, serta skema keberlangsungan KBM apabila bangunan yang digunakan saat ini direhabilitasi.
Jalan Hancur, Siswa Bertaruh Keselamatan
Penderitaan siswa SMKN 1 Cihara tak berhenti pada persoalan gedung. Akses jalan sepanjang sekitar empat kilometer di Desa Ciparahu juga dikeluhkan mengalami kerusakan parah.
Saat hujan turun, jalan berubah menjadi becek dan berlumpur. Lubang-lubang yang dipenuhi genangan air menyulitkan perjalanan siswa maupun guru yang setiap hari melintas untuk menjalankan aktivitas pendidikan.
Seorang siswa SMKN 1 Cihara yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa kerusakan jalan tersebut sudah lama dikeluhkan, tetapi belum kunjung mendapat penanganan yang dirasakan masyarakat.
“Jalannya rusak parah. Apalagi saat kondisi hujan, jalan jadi becek serta lubang jalan dipenuhi genangan air, mengakibatkan sepatu hingga seragam sekolah pun sering kotor terkena percikan lumpur yang berada di jalan,” katanya, Sabtu (24/10/2026).
Bukan sekadar membuat sepatu dan seragam kotor, kondisi jalan tersebut juga disebut membahayakan keselamatan pelajar. Siswa yang menggunakan sepeda motor harus ekstra hati-hati ketika melewati lubang dan permukaan jalan yang licin.
“Sudah sering teman yang berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor terjatuh akibat melindas jalan yang berlubang,” ujarnya.
Keluhan itu menjadi peringatan bahwa kerusakan akses sekolah bukan persoalan sepele. Jika dibiarkan, risiko kecelakaan akan terus membayangi para pelajar yang setiap hari harus menempuh jalur tersebut.
“Inginnya sih cepat diperbaiki saja,” tambahnya.
Warga Sentil Pemerintah, Jangan Tutup Mata!
Keprihatinan juga disampaikan Asep, warga sekitar. Ia berharap pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Lebak segera turun tangan menangani jalan rusak yang menjadi akses penting bagi siswa, guru, dan masyarakat.
“Semoga saja Pemerintah Desa maupun Pemerintah Daerah bisa peka dan segera memperbaiki jalan tersebut. Sebab, dengan kondisi jalan seperti itu, bisa mengancam keselamatan anak sekolah bahkan guru,” ucap Asep.
Keluhan warga tersebut menjadi desakan agar pihak berwenang tidak sekadar menerima laporan, tetapi juga menjelaskan langkah penanganan yang akan dilakukan, termasuk status kewenangan jalan dan rencana perbaikannya.
Kini, ada dua persoalan mendasar yang menanti jawaban: kepastian gedung mandiri bagi SMKN 1 Cihara dan perbaikan akses jalan menuju sekolah.
Masyarakat membutuhkan kejelasan, bukan sekadar kabar mengenai kemungkinan merger atau usulan yang belum diketahui ujungnya. Begitu pula jalan rusak yang setiap hari dilalui pelajar, perlu penanganan nyata agar keselamatan mereka tidak terus dipertaruhkan.
Hingga berita ini ditayangkan, belum diperoleh keterangan resmi dari instansi terkait mengenai kepastian pembangunan gedung SMKN 1 Cihara, informasi merger pada 2027, maupun jadwal perbaikan jalan di Desa Ciparahu.
(Red).
