LEBAK – Hari Tani Nasional 2026 di Kabupaten Lebak jangan sampai berhenti pada seremoni dan panggung pidato. Di balik peringatan tersebut, petani masih bergelut dengan sederet persoalan klasik: harga hasil panen, pupuk, irigasi, modal, akses pasar hingga konflik agraria.
Sorotan itu mencuat dalam rangkaian Hari Tani Nasional 2026 di Kabupaten Lebak, Rabu (23/9/2026).
Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Lebak, Elen, menegaskan petani tidak membutuhkan sekadar janji dan kegiatan seremonial. Yang dibutuhkan adalah kepastian agar jerih payah dari menanam hingga panen benar-benar menghasilkan penghidupan yang layak.
“Petani boleh capek mencangkul, kepanasan di sawah, tetapi semangat Tani Merdeka Indonesia tidak boleh kendor,” ujar Elen.
Menurutnya, persoalan harga hasil panen masih menjadi momok bagi petani. Biaya produksi terus dikeluarkan, tenaga dan waktu dipertaruhkan, tetapi saat panen tiba, harga belum tentu mampu menutup seluruh pengorbanan tersebut.
“Petani tidak membutuhkan terlalu banyak janji. Petani membutuhkan kepastian pupuk, kepastian produksi, kepastian pendampingan, dan yang tidak kalah penting kepastian pasar dan harga,” tegasnya.
Tak hanya harga. Persoalan irigasi, keterbatasan alat dan mesin pertanian, lahan belum produktif, permodalan serta pendampingan juga dinilai masih membutuhkan perhatian serius.
Elen pun meminta persoalan tersebut tidak hanya dibicarakan di ruang rapat.
“Kalau ada lahan yang belum produktif, mari kita dorong agar menjadi produktif. Apabila ada irigasi bermasalah, mari kita cari jalan keluarnya. Kalau petani kesulitan modal, mari kita buka akses seluas-luasnya. Kalau hasil panen kesulitan pasar, mari kita bangun jejaringnya,” katanya.
Ia juga melontarkan kritik terhadap pola perhatian kepada petani yang berhenti pada kegiatan simbolis.
“Petani itu bukan cuma disuruh foto di sawah. Petani butuh sawahnya produktif, bisa memanen dan mendapatkan hasil yang
layak,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, menyoroti persoalan yang lebih mendasar: tanah dan konflik agraria.
Menurut Don, petani tidak cukup hanya diberi pupuk, benih, pestisida atau traktor jika persoalan akses terhadap lahan masih belum terselesaikan.
“Petani ini bukan hanya butuh pupuk, bukan hanya butuh pestisida, benih atau traktor, tetapi juga butuh lahan untuk digarap,” katanya.
Don meminta jajaran Tani Merdeka di Banten, khususnya Kabupaten Lebak, memetakan berbagai persoalan dan konflik agraria di wilayahnya.
“Petakan di mana ada konflik-konflik yang menyangkut tentang agraria. Hari Tani ini bukan hanya memperingati bercocok tanam, tetapi juga masalah tanah dan hak rakyat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan organisasi petani agar tidak sekadar hadir ketika ada program atau bantuan pemerintah.
“Organisasi ini bukan menunggu bantuan. Kita bekerja membantu pemerintah. Itu tugas kita,” ujarnya.
Menurut Don, pendampingan harus menyentuh persoalan nyata yang dihadapi petani, termasuk membantu pengurusan RDKK untuk penebusan pupuk hingga mendampingi masyarakat yang menghadapi persoalan lahan.
Ia juga mengingatkan agar bantuan pemerintah tidak diperjualbelikan atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
MBG Jangan Cuma Jadi Program di Atas Kertas
Don turut menyoroti peluang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menjadi pasar bagi hasil pertanian dan peternakan lokal.
Menurutnya, program tersebut bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga berpotensi membuka jalur penyerapan produk petani apabila kebutuhan pangan dapur MBG dipenuhi dari daerah sekitar.
“Program makan siang gratis ini bukan hanya untuk kebutuhan gizi, tetapi juga dapat menyerap hasil panen petani, hasil panen peternak dan hasil perkebunan,” katanya.
Karena itu, jajaran Tani Merdeka di daerah diminta membangun jaringan antara kelompok tani dengan dapur MBG.
Kelompok tani yang selama ini kesulitan mendapatkan pasar, kata Don, perlu dibina agar memiliki kemampuan dan akses untuk memasok kebutuhan tersebut.
“Jangan hanya menjadi acara seremonial. Tolong dibina kelompok tani yang tidak ada jaringan ke MBG. Jadi betul-betul Tani Merdeka ini ada di tengah-tengah petani,” tegasnya.
Selain MBG, Don mendorong lahan yang belum produktif dimanfaatkan untuk komoditas yang memiliki pasar. Singkong, misalnya, dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan dan diolah menjadi produk turunan seperti tepung.
Namun, produksi saja dinilai tidak cukup. Kepastian pasar dan penyerapan menjadi kunci agar petani tidak kembali terjebak pada persoalan klasik ketika musim panen tiba.
Peringatan Hari Tani Nasional 2026 di Lebak turut dihadiri Bupati Lebak Moch Hasbi Asyidiki Jayabaya, jajaran Tani Merdeka Indonesia, unsur Forkopimda, organisasi masyarakat, petani, pemuda, mahasiswa serta tamu undangan lainnya.
Momentum Hari Tani Nasional tersebut akhirnya kembali membawa satu pekerjaan besar: bagaimana persoalan petani tidak berhenti sebagai bahan pidato tahunan.
Harga panen, pupuk, irigasi, modal, akses pasar, produktivitas lahan hingga konflik agraria membutuhkan pengawalan nyata dan berkelanjutan.
Sebab petani tidak hidup dari seremoni. Petani hidup dari lahan yang produktif, biaya produksi yang terjangkau, pasar yang jelas dan hasil panen yang layak.
(Red)
