Posted in

Ribuan Petani Lebak Turun ke Jalan, Reforma Agraria Jadi Sorotan

LEBAK- Ribuan petani dari berbagai kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten, memadati kawasan Alun-Alun Kota Lebak, Rabu (24/9/2026). Mereka turun ke jalan memperingati Hari Tani Nasional 2026 sekaligus menyuarakan harapan agar persoalan agraria yang selama ini membelit petani mendapat penyelesaian nyata.

Massa yang tergabung dalam Tani Merdeka Indonesia DPD Kabupaten Lebak datang dari berbagai wilayah. Rombongan petani Kecamatan Sajira, misalnya, membawa spanduk dan ratusan bendera organisasi.

Di tengah kerumunan, terlihat pula bendera bergambar Presiden Prabowo Subianto bertuliskan “Jaga Prabowo Jaga Indonesia”.

Sejumlah spanduk berisi pesan petani juga dibentangkan. Salah satunya berisi ucapan Hari Tani Nasional 2026 dari DPD Tani Merdeka Indonesia Kecamatan Sajira.

Massa juga membawa spanduk yang memberikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan DPR RI terkait pengesahan regulasi reforma agraria yang mereka sebut berlangsung pada 22 September 2026.

Di atas panggung, Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir menegaskan, persoalan reforma agraria bukan isu baru. Menurutnya, masyarakat dan petani telah menunggu kepastian hukum terkait persoalan tanah selama puluhan tahun.

“Puluhan tahun masyarakat, rakyat, petani menunggu undang-undang reforma agraria ini segera disahkan,” ujar Don Muzakir.

Ia berharap regulasi tersebut tidak berhenti menjadi aturan di atas kertas. Kepastian hukum dan penyelesaian konflik agraria, kata dia, harus benar-benar dirasakan masyarakat.

Don Muzakir juga mengingatkan sejarah Hari Tani Nasional yang dicetuskan Presiden Soekarno pada 1960.

Menurutnya, Hari Tani Nasional bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Peringatan tersebut memiliki kaitan erat dengan cita-cita reforma agraria dan persoalan penguasaan tanah yang menyangkut kehidupan petani.

“Kita memperingati hari dicetusnya Hari Tani Nasional. Tahun 1960 Bung Karno mencetuskan Hari Tani Nasional untuk membagi tanah kepada rakyat. 66 tahun lamanya sejak Bung Karno,” katanya.

Sorotan terhadap persoalan agraria juga datang dari petani di Kabupaten Lebak, khususnya wilayah Lebak Selatan. Mereka berharap regulasi reforma agraria benar-benar menjadi pintu masuk penyelesaian konflik dan memberikan kepastian hukum terhadap lahan garapan.

Jangan sampai reforma agraria hanya ramai di panggung, tetapi sepi di lapangan.

Petani berharap konflik agraria yang selama ini terjadi dapat segera memperoleh penyelesaian konkret. Sebab bagi petani, tanah bukan sekadar hamparan lahan, melainkan tempat menggantungkan hidup sekaligus masa depan keluarga.

Sementara itu, Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Lebak mengatakan, berkumpulnya para petani bukan semata untuk mengikuti seremoni Hari Tani Nasional.

“Kita kumpul di sini untuk merayakan Hari Tani dan ingin ada regenerasi petani, untuk pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, regenerasi menjadi penting agar sektor pertanian tetap memiliki penerus dan mampu berkelanjutan di tengah berbagai tantangan.

Pantauan di lokasi, kegiatan peringatan Hari Tani Nasional berlangsung tertib dan damai hingga siang hari. Sejumlah personel kepolisian tampak melakukan pengamanan di sekitar lokasi.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version